PALEMBANG — Kualitas pelayanan kesehatan bagi masyarakat pengguna BPJS terus ditingkatkan. Salah satunya dengan menambah rumah sakit sebagai rujukan kesehatan.

Ketua BPJS RI Fahmi Idris, rabu (31/8) usai menghadiri launching UMKM Korpri Indogrosir di Palembang, mengungkapkan hingga saat ini sudah 2.000 lebih Rumah sakit di Indonesia telah bekerjasama dengan BPJS untuk menerimah pasien pengguna kartu BPJS dan terus akan bertambah.

Kata dia, peluang untuk menambah rumah sakit sebagai rujukan BPJS masih terbuka luas. Namun harus melewati peraturan yang telah ditentukan oleh kementerian kesehatan RI. “Peluang untuk memperluas jaringan rumah sakit sebagai layanan kesehatan tentu ada, namun tentu harus memenuhi kriteria yang telah dibuat oleh kementerian kesehatan RI,” ungkapnya.

Ia juga membantah jika ada anggapan rendahnya minat rumah sakit untuk menjadi mitra layanan BPJS, karena hingga kini banyak rumah sakit yang sedang dalam proses menjalin kerjasama.

Selain itu, BPJS juga terus mengupayakan agar pihak rumah sakit dapat memberikan layanan maksimal terhadap masyarakat yang membutuhkan pelayanan kesehatan. “Kami berharap tidak ada lagi rumah sakit rekanan BPJS yang menolak pasien karena alasan apapun termasuk alasan ruangan penuh,” tegasnya.

Terkait pemeberitaan mengenai masih ada pihak rumah sakit yang menolak pasien penggunan BPJS dengan alasan ruangan penuh, ia menegaskan jika hal tersebut ditemukan dan disertai bukti kuat maka segera laporkan dengan pihak BPJS. “Pasti akan segera kita proses aduan itu, kita juga punya call center untuk menanggapi aduan masyarakat,” jelasnya.

Dikatakannya, jika ada pihak pasien ditolak rumah sakit mitra BPJS karena alasan penuh padahal ruangan ada, maka laporkan pada pihak BPSJ. “Pasti kita tindaklanjuti, tapi sebagai ilustrasi saja, biasanya memang ada masa transisi persiapan ruangan pada saat pasien keluar dari tumah sakit, sehingga perlu dipahami,” urainya.

Namun sekali lagi ia menegaskan pada intinya pihak rumah sakit dilarang keras menolak pasien dengan alasan yang tidak kuat dan berdampak buruk bagi pasien. (juniara)

Artikel Terkait