PALEMBANG — Puncak rangkaian Bonn Challenge di Sumatera Selatan yakni High level roundtable meeting digelar pada hari ini, Rabu (10/5) seharian penuh di pendopoan Griya Agung.

Mekanisme rapat ini sangat terbatas dan diikuti oleh 27 menteri lingkungan dari 27 negera yang ada di dunia yang akan membahas tentang isu lingkungan dan cara pelestariannya.

Dilaksanakan Bonn Challenge di Sumsel merupakan wujud komitmen Pemerintah Provinsi Sumsel terhadap restorasi landskape hutan. Terpilihnya provinsi ini sebagai tuan rumah merupakan keputusan dari hasil penemuan tingkat regional Amerika latin di Panama pada Agustin lalu. Konferensi Bonn Oral/em kali ini akan mendatangkan lima menteri lingkungan hidup dari berbagai negara Asia dan diikuti 40 negara di Asia sebagai peserta perwakilan.

Bonn Challenge merupakan forum pertemuan regional yang menjadi salah satu upaya penyelamatan hutan ditingkat pemerintahan yang juga melibatkan elemen masyarakat sipil dan bisnis dari seluruh dunia. Bonn Challenge memiliki tujuan utama untuk mengurangi laju deforestasi seluas 150 juta hektare lahan hutan hingga 2020, dan 350 juta hektare sampai dengan 2030.

Keputusan menjadikan provinsi Sumsel tuan rumah Bonn Challenge tentunya menimbulkan tanda tanya bagi beberapa pihak. Pasalnya, dalam beberapa tahun terakhir, kawasan Sumsel disorot akibat kabut asap yang berasal dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Oleh karena itu, Gubernur Sumatera Selatan, Alex Noerdin menilai pertemuan ini merupakan kesempatan bagi masyarakat Sumsel untuk menunjukkan bahwa Sumsel sangat menyadari konsekuensi dari berbagai tindakan yang tidak lestari dimasa lampau.

“Provinsi Sumsel memetik banyak pelajaran dari kasus karhutla yang masif pada 2015 silam tersebut. Oleh karena itu, kami memperkenalkan konsep Green Growth Sumatera, yakni suatu konsep pembangunan hijau yang merangkul multi pihak yakni pemerintah, perusahaan perkebunan, Lembaga Sosial Masyarakat, dan masyarakat,” kata Alex.

Konsep Ini mulai diperkenalkan sejak 2014, ketika Badan Pelaksana REDD+ meminta inisiasi daerah untuk program penurunan emisi gas rumah kaca. Konsep yang disebut oleh Menteri Lingkungan Norwegia sebagai yang pertama di dunia ini kemudian diluncurkan pada Juli 2015 di Jakarta, namun belum sempat diaksanakan karena terjadi karhutla di Sumsel.

Green Growth Sumatera bertujuan untuk memberikan kewenangan yang luas kepada pemerintah daerah yaitu gubernur untuk mengambil keputusan melalui pendekatan yuridisi atas inisiasi sendiri, walaupun belum ada regulasi eksplisit dalam tingkat nasional.

Penanganan karhutia perlu langkah yang cepat dan tepat sasaran. Lambat satu jam saja penanganan, api sudah dapat menyebar hingga puluhan kilometer.

Alex berharap, melalui inisiatif Green Growth Sumatera ini, tak hanya pemerintah yang berperan sebagai leader. “Kami mengharapkan semua stakeholder, mulai dari perusahaan hinga masyarakat llmt turun tangan,” tegas Alex.

Dalam kesempatan ini, Aiex mengapresiasi mitigasi berbagai perusahaan yang sudah ikut turun tangan, termasuk 112 desa peduli api yang kemudian berkembang mnjadi 162 desa melalui program Desa Peduli Gambut. (juniara)

Artikel Terkait