Keputusan manajemen Bonek FC melakukan walk out di leg kedua babak 8 besar Piala Presiden 2015 mengundang banyak pertanyaan. Tidak sedikit yang menyayangkan mengingat Evan Dimas dkk masih dalam posisi unggul dan tuan rumah Sriwijaya FC harus mencetak 3 gol untuk membalikkan keadaan.

Namun CEO Bonek FC, Gede Widiade mengaku sudah memikirkan dengan matang keputusannya tersebut. “Saat memutuskan untuk tidak mau melanjutkan pertandingan, bagi kami ini bukan mengenai kalah atau menang, tapi benar atau tidak sebuah sistem dipergunakan,” ujarnya.

Sebelum laga dimulai, pihaknya pun sudah menduga laga akan berlangsung dengan tekanan yang sangat tinggi. “Bagi dua tim, laga ini sangat krusial. Karena itu saat undian antara kedua kapten sebelum pertandingan, kami sudah mengatakan ke wasit agar bertindak adil dan jika keterlaluan maka kami akan mundur,” ungkapnya.

Saat ada insiden handsball oleh Faturohman, dirinya pun langsung mendatangi petugas broadcaster dan meminta diperlihatkan tayangan ulangnya. “Saya ingin tahu di rekaman, apakah ada handsball dan hasilnya tidak ada. Karena itu saat masuk ruang ganti, opsi kami tetap akan melanjutkan pertandingan namun ada pergantian wasit,” bebernya.

Menurutnya, ketika ditanya oleh panpel mengenai hal tersebut, dirinya pun sudah berbesar hati dengan tetap menerima hukuman penalti. “Saya katakan kami akan main lagi, silahkan hukuman penalti diteruskan tapi wasit harus diganti. Kalau dibilang saya egois dan hanya ingin masuk semifinal, mengalahkan kami dengan skor 3-1 juga sulit. Jadi sekali ini bukan soal kalah menang tapi tentang kebenaran,” tegasnya.

Diakuinya, dengan buruknya kualitas wasit maka puluhan miliar biaya pembinaan yang dikeluarkan pihaknya sangat terasa sia-sia. “Tidak cukup dengan komplain saja, harus ada action agar korps wasit mau introspeksi diri. Jika tidak mereka akan terus semena-mena. Jika ditanya apakah harga yang dibayar terlalu mahal, buat saya tidak juga dan apalagi ini live. Duit tidak masalah, hanya ruginya hilangnya kans lolos ke semifinal,” keluhnya.

Dirinya pun mengaku sudah berbicara dengan pihak Mahaka Sports and Entertainment dan juga PSSI terkait masalah ini. “Wasit seperti ini jangan dipakai lagi, apalagi dimasa sulit seperti sekarang dimana tidak mudah membina klub. Di Bonek FC, 50 persen pemain kami masih muda dan tergabung timnas. Jika kondisi ini diteruskan, mereka bisa frustasi,” ungkap pengusaha property ini.

Karena itu, dirinya mengaku siap menjadi martir bagi kemajuan sepakbola nasional. “Action seperti ini semoga bermanfaat, mungkin tidak sekarang dan baru dipetik 2-3 tahun kedepan. Namun kalau sampai tidak terjadi perubahan, mungin sepakbola kita memang perlu reformasi mendasar,” sambungnya.

Gede pun menepis anggapan bahwa aksinya ini juga dikarenakan terus mendapat gangguan sehingga mesti merubah nama dan logo tim di ajang Piala Presiden. “Kami enjoy dengan nama Bonek FC, mau Kentang FC pun tidak masalah. Yang penting adalah gaji lancar, bonus juga tidak telat dan kualitas permainan kami pun tidak buruk, selesai ini kami akan tetap berlatih seperti biasa dan tidak ada yang namanya membubarkan diri,” lanjutnya.

Selain itu, dirinya pun menegaskan hubungan antara Bonek FC dan SFC pun akan tetap berjalan baik. “Selamat untuk SFC, soal hubungan yang pasti seperti biasa. Aksi kami hari ini murni untuk memperbaiki kualitas wasit sepakbola di Indonesia,” pungkasnya.