PALEMBANG — Bank Indonesia (BI) kantor wilayah provinsi Sumatera Selatan menggandengan Ulama dan Organisasi Keislaman untuk mensosialisasikan dan memberikan pemahaman kepada masyarakat terhadap pengeluaran uang rupiah baru emisi 2016.

Dikatakan Deputi Kepala Perwakilan BI Sumsel, Seto Pranoto, selama ini banyak beredar berita bohong atau hoax terkait logo uang rupiah baru. Untuk itu, perlu adanya pemberian informasi yang benar dari pemerintah dan pihak terkait lainnya kepada masyarakat sesuai undang-undang nomor 7 tahun 2011.

“Kita berharap kerjasamanya dari ulama agar mensosialisasikan kepada masyarakat bahwa uang rupiah itu resmi dan berlaku,” ajaknya, disela kegiatan silahturahmi dan dialog interaktif, Kepala Perwakilan Bank Indonesia provinsi Sumsel bersama ulama dan ormas islama se Sumsel di hotel Daira, Senin (06/02).

Menurut Seto, uang rupiah merupakan hal yang strategis sebagai alat pembayaran sehingga mudah dimanfaatkan oleh oknum-oknum tertentu. “Oleh karena itu butuh sosialisasi ke semua lapisan masyarakat,” kata dia.

Sementara, Plt Sekretaris Daerah Sumsel, Djoko Imam Sentosa menyambut baik dengan adanya sosialisasi uang rupiah baru dari BI. “Ini adalah langkah yang bagus agar masyarakat mengetahui dan tidak kaget terhadap uang yang baru,” tuturnya.

Dijelaskan Djoko, pengeluaran uang rupiah baru dilakukan sekitar 10 tahun sekali dengan tujuan untuk menukar uang-uang yang lama dan telah lusuh.

“Setiap kali ada emisi baru itu salah satunya untuk menukar uang lama yang beredar dengan uang baru, dan langkah strategis untuk memperkenalkanya memang lebih baik melalui ulama karena mereka lebih dekat dan paham tentang masyarakat,” singkatnya. (juniara)

Artikel Terkait