Laskarwongkito.com-Sosok Alberto Goncalves menjadi fgur penting bagi timnas Indonesia U23 yang saat ini tengah berlaga di perhelatan Asian Games 2018. Meski di awal pemanggilannya sempat menjadi kontroversi di kalangan pecinta sepakbola tanah air, namun pemain yang baru dinaturalisasi tahun ini membuktikan kualitasnya bersama skuad Garuda Muda.

Setelah paceklik gol di 3 laga uji coba sebelum Asian Games, penyerang Sriwijaya FC ini kemudian tancap gas dan menunjukkan ketajamannya bersama Timnas Indonesia U-23. Setelah tidak dimainkan saat Indonesia dikalahkan Palestina, ayah dari 3 anak ini mencetak dua gol saat mengalahkan Laos 3-0 (17/8).

Tambahan dua gol membuat Beto kini sudah mengoleksi tiga gol di Asian Games 2018. Sebelumnya, penyerang Sriwijaya FC itu mencetak satu gol saat Timnas Indonesia U-23 mengalahkan Taiwan 4-0 di laga pertama (12/8) lalu.

Dengan torehan tiga gol Beto memiliki jumlah gol yang sama dengan pemain Hong Kong Tan Chun Lok dan penyerang Malaysia Safawi Rasid. Ketiga pemain itu hanya tertinggal satu gol dari penyerang Korea Selatan Hwang Ui-jo.

Selama berkarier di Indonesia, Beto sendiri memang menjadi langganan top skor di sejumlah kompetisi yang diikutinya. Namun sama seperti kebanyakan pemain Brasil lainnya, masa kecil Beto sendiri juga tergolong suram. Oleh karena itu, Beto menyebut seluruh keluarganya di Brasil sangat bangga dengan pencapaiannya saat ini bersama timnas Indonesia.

“Meski keluarga saya semuanya orang Brasil, mereka semua sangat mendukung keputusan saya menjadi WNI karena apa yang saya dapatkan sejauh ini hampir semuanya lewat karier sepakbola saya di Indonesia. Saya bisa membeli rumah yang layak dan kendaraan untuk keluarga, jadi sewaktu saya main di timnas kemarin mereka nobar di Brasil, mama juga sampai menangis saat melihat saya bikin gol,” ujarnya saat dihubungi Sabtu (18/8) siang.

Kedua orang tuanya yakni Jose Alberto dan Jacirema Costa disebutnya memang punya impian melihat anaknya menjadi pemain timnas. “Semua di Brasil sangat menyukai sepakbola, dan sebuah kebanggaan besar dan tertinggi jika bisa main untuk timnas. Jadi mereka bangga walau saya kini WNI karena bisa membela Indonesia, mama juga teringat perjuangan saya sewaktu kecil dulu sewaktu memulai karier sepakbola,” ungkapnya.

Sewaktu kecil, Beto sendiri memang harus berjuang keras untuk berlatih di klub asal kotanya, Sport Belem. “Setiap hari, pagi dan sore saya harus menempuh perjalanan sejauh 10 KM dengan sepeda rusak, sadelnya tidak berfungsi dengan baik. Itu saya lakukan cukup lama sampai akhirnya di tahun 2004 saya pindah ke klub Tuna yang jaraknya lebih dekat dengan rumah,” kenangnya.

Di tahun 2005, sewaktu pindah ke klub lainnya yakni Remo peruntungan Beto dimulai. “Di Remo, saya akhirnya bisa membeli motor sendiri dan tidak perlu memakai sepeda lagi. Jadi mama tahu sekali bagaimana saya bekerja keras untuk mendapatkan apa yang saya raih sejauh ini,” bebernya.

Ke depan, Beto sendiri menyebut masih memiliki ambisi untuk membawa Indonesia lolos ke babak selanjutnya. “Tapi kami tidak bisa melakukannya sendiri, butuh dukungan dari seluruh suporter dan masyarakat Indonesia. Saya juga mengucapkan terima kasih untuk manajemen SFC yang sudah membantu naturalisasi dan mendukung saat di timnas ini, kemarin saya sempat sedih karena saat TC saya melihat tim saya mendapat hasil yang kurang maksimal. Tapi saya selalu support SFC karena lewat mereka saya bisa masuk ke timnas,” pungkasnya.

Artikel Terkait