PALEMBANG — Women Crisis Center (WCC) Palembang, Kamis (19/5) menyelenggarakan focus group discussion (FGD) yang diikuti aktivis perempuan, advokat, ulama dan jurnalis dengan tema kekerasan seksual dan pemerkosaan pada perempuan.
Dalam FGD dibahas juga tentang kontribusi media massa – media cetak, media online dan media elektronik – dalam pemberitaannya lebih cenderung merugikan korban dari pada melindungi korban.
Menurut Direktur WCC Yenni Izi, semakin banyak media massa turut memberitakan kasus kekerasan seksual atau pemerkosaan lebih banyak berakibat merugikan korban. “Pemberitaan media massa bukan hanya menambah derita korban, justu memicu ramainya kasus kekerasan seksual lainnya dengan pelaku lain,” katanya.
Aktivis perempuan Yenni Izi mengajak perusahaan atau pengelola media massa untuk melakukan terobosan. “Kasus kekerasan dan pemerkosaan tidak harus menjadi pemberitaan media massa, karena efeknya sangat merugikan korban dan keluarganya.”
Direktur WCC Yenni Izi mengajak pengelola media massa dalam kasus kekerasan seksual  tidak harus fokus pada pemberitaan tentang korbannya.
“Memang kekerasan seksual tidak harus menjadi fokus berita, tetapi harus dilakukan upaya hukum agar memberi efek jera kepada pelaku. Kasus pemerkosaan adalah fenomena gunung es yang harus disikapi dengan maksimal,” katanya.
Sementara itu Aina Rumiyati Aziz dari Forum Jurnalis Kartini Sumatera Selatan (Sumsel) mengatakan, “Terhadap pelaku kekerasan seksual harus ada efek jera bagi pelaku pemerkosaan. Media massa selama ini memang sudah dapat memberikan rasa malu kepada pelaku, Sebaliknya, pemberitaan itu tidak memberi efek jera pada pelaku lainnya. Menurut saya, dengan melakukan kebiri pada pelakunya adalah hukuman yang bisa memberi efek jera.”
Sementara itu menurut Ketua Peradi Palembang Bambang Hariyanto, dalam pandangan hukum para pelaku memang harus mendapatkan hukuman yang berat, namun dalam tatanan hukum yang adil. “Jadi memang dalam aturan hukum harusnya pelaku diberi hukuman yang berat,” katanya.
Menurut Bambang Hariyanto, dalam penegakan hukum media massa harus menjadi yang pertama untuk menekan angka kekerasan seksual tersebut,” ujarnya.(deddy)

Artikel Terkait