PALEMBANG — Masyarakat harus pandai dalam  memilih ikan yang akan dikomsumsi dalam tubuh dan membedakan mana  ikan  yang diberik  bahan pengawet atau mengandung formalin.

Apalagi, saat ini banyak ditemui pedagang yang menggunakan formalin agar ikan dapat bertahan dalam waktu yang lama.

Kepala Balai Karantina Perikanan (BPKIMP) Provinsi Sumatera Selatan Wigrantoro Giri pratikno saat ditemui diruangannya, Kamis (20/04) mengimbau agar masyarakat sebagai konsumen harus lebih jeli memilih ikan segar untuk dikonsumsi, karena ikan yang beeformalin tentu saja membahayakan.

Ia menjelaskan beberapa hal yang harus diperhatikan saat membeli ikan dengan berpatokan pada  ciri-ciri ikan segar seperti warna pada ikan terlihat cemerlang, tekstur elastis bila ditekan dengan jari, memiliki bau yang segar.

“Ikan yang tidak mengandung formalin terlihat dari sayatan daging yang cerah sedikit kemerahan sepanjang tulang belakang, isi perut utuh, dan bila ikan dipegang akan lemas dan lunglai.

Sementara untuk ciri-ciri ikan yang mengandung formalin atau bahan berbahaya lainnya, yaitu warna ikan terlihat pucat kusam, tekstur keras dan padat bila ditekan dengan jari, serta tercium bau yang asam. Selanjutnya, ikan tersebut memiliki daging yang pucat kusam, antar jaring longgar, isi perut tidak utuh, dan bila ikan dipegang akan terasa keras, kaku, serta tegang.

Lanjutnya ,  BPKIMP juga akan siap untuk membantu masyarakat dalam konteks pengujian ikan yang beformalin yang akan di uji di balai karantina Prov. Sumsel.

“Kami siap untuk membantu masyarakat dalam praktek pengujian formalin, kami siap untuk menguji di lab kami,” tegasnya.

Giri juga menghimbau kepada masyarakat agar berwaspada bahaya ikan beformalin itu dapat di setiap tempat penjualan terutama di ikan makan-makannya yang lain.

“Masyarakat juga perlu tahu bahwa bahaya beformalin dimanapun terjadi terutama di pasar-pasar tradisional maupun penjualan keliling itu harus diwaspadai oleh masyarakat,” imbaunya. (juniara)

Artikel Terkait