Meski dianggap memiliki beberapa perbedaan, namun sosok penyerang Sriwijaya FC Goran Ljubojevic dianggap punya kemampuan yang tidak jauh berbeda dengan Emmanuel ‘Pacho’ Kenmogne oleh pelatih Beny Dollo. Bahkan jika dapat terus mempertahankan performanya, Bendol menjelaskan Gorab bisa saja menjadi pencetak gol terbanyak di QNB League 2015, prestasi yang diukir oleh Pacho di Indonesian Super League (ISL) musim lalu.

“Memang ada perbedaan diantaranya keduanya, karena Pacho sedikit punya naluri mencetak gol yang lebih tinggi ketimbang Goran. Namun secara umum, mereka berdua adalah tipikal striker yang sangat dibutuhkan di dalam tim, karena sangat efektif dalam memaksimalkan peluang yang ada,” ujar eks pelatih timnas senior ini saat dihubungi Jumat (17/4) sore.

Menurutnya, saat pertama kali datang ke Indonesia dua musim lalu, banyak pihak yang meragukan keputusannya merekrut Pacho di Persija kala itu. “Fisiknya tidak terlalu gagah dan mainnya juga biasa-biasa saja, namun itu yang menjadi keunggulan Pacho. Dia tidak perlu menendang bola dengan keras, tapi penempatannya sempurna. Saya pikir pengalamannya menjadikannya sangat matang,” jelas Bendol.

Hal yang sama juga disampaikannya terkait performa Goran bersama SFC musim ini. “Saya belakangan banyak dan selalu ditanya mengenai performa Goran, dengan torehan 3 gol dari 3 laga yang sudah dimainkan itu adalah catatan yang cukup bagus. Dan tugas striker adalah mencetak gol untuk membantu tim, artinya sejauh ini dia mampu melaksanakan tanggung jawabnya dengan baik,” ungkap pelatih asal Manado ini.

Saat tidak mencetak gol di laga kedua melawan Semen Padang (7/4) lalu, menurut Bendol memang performa tim secara keseluruhan juga tidak bermain dengan baik. “Nyaris tidak ada umpan silang kepada Goran, dirinya memang tipikal striker yang membutuhkan suplai umpan-umpan ke kotak penalti. Namun kelemahan itu sudah kita coba perbaiki di sesi latihan,” tambahnya.

Mengenai catatan gol pemain asal Kroasia tersebut yang hanya dihasilkan melalui sundulan kepala, Bendol juga menyatakan tidak terlalu mempermasalahkannya. “Bahkan sebenarnya seorang kiper itu akan lebih susah mengantisipasi sundulan kepala ketimbang tendangan ke arah gawangnya. Tendangan menggunakan kaki dapat dilihat arahnya oleh kiper, sementara jika sundulan akan sulit karena dalam sepersekian detik mampu berubah arahnya,” pungkasnya.

Artikel Terkait