Laskarwongkito.com — Siapa yang tidak suka seblak? Bagi penyuka pedas pastinya sangat gemar menyantap makanan khas Bandung ini, bukan. Seblak merupakan jajanan khas Bandung yang tebuat dari kerupuk rebus.

Kerupuk yang sejatinya bertekstur garing dibumbui dan diolah sedemikan rupa hingga berubah tekstur jadi super kenyal. Biasanya, seblak disajikan dengan kuah pedas nan menggoyang lidah.

Campurannya pun beragam. Mulai dari irisan bakso, sosis, daun bawang, dan telur. Tak sedikit juga yang meramu seblak dengan campuran ceker, kwetiau, makaroni, dan sebagainya. Hmm… Membayangkannya saja, air liur sudah mulai menitik.

(sumber foto: okeinfo.net)

Sangat menggilai jajanan yang satu ini, banyak orang sanggup menyantap seblak setiap hari. Namun, tahukah kamu bahwa mungkin saja ada bahaya di balik kelezatan seblak yang kamu santap setiap hari?

Beberapa hari ini beredar kisah yang menyebar di media sosial soal sakit yang dialami bocah asal Bandung. Bocah ini dikisah itu dituliskan menyantap jajanan seblak hampir setiap hari.

Hingga akhirnya bocah itu dikabarkan sakit perut, dan dicerita itu dijelaskan dia sakit usus buntu yang khawatir bisa menyebar ke rahim. Kisah bocah dari Bandung itu belum tentu benar, dan bisa saja hoax yang disebarkan mereka yang anti makanan seblak guna membuat keresahan.

Lantas bagaimana menurut ahli kesehatan, apakah seblak memang berbahaya bagi tubuh?Annisa Parasayu menjelaskan bahwa seblak tidak bisa disalahkan sebagai penyebab utamanya. Dokter harus melakukan pemeriksaan anamnesis dengan menggali kebiasaan makan si anak.

“Untuk masalah penyebabnya seblak atau bukan, pasti dalam anamnesis dokter mencari penyebabnya. Digali kebiasaan makan si anak dan ternyata mungkin kebiasaannya suka makan seblak, bisa jadi memang itu penyebabnya. Kalau anak itu keseringan makan mi tapi bukan makan seblak lalu dia usus buntu, bisa jadi mi penyebabnya,” tutur dr. Annisa, Selasa (10/10).

Dokter yang menjadi staff Timja Tumor Otak di RS Kanker Dharmais Jakarta itu menambahkan, jika perlu pembuktian, ada baiknya seblak harus dibawa ke laboratorium untuk diuji coba kandungan-kandungan apa saja yang ada di dalamnya.

“Kalau yang saya baca dari ceritanya, ada appendisitis akut atau usus buntu. Jadi terjadi peradangan akut di ususnya yang ditandai dengan gejala sakit perut tiba-tiba, sangat sakit, disertai gejala-gejala gastrointestinal akut lainnya, seperti diare dan muntah, akibat adanya gangguan fisiologis itu,” paparnya lagi.

Lantas mengapa penyakitnya bisa menyebar ke rahim? dr. Annisa mengatakan jika usus buntu yang telah terjadi peradangan yang tidak cepat diatasi bisa menyebabkan usus pecah (perforasi) dan infeksi bisa menyebar lewat darah ke organ lain, termasuk rahim.

Dokter lulusan Universitas Trisakti itu menerangkan bahwa lokasi usus buntu terletak sangat berdekatan dengan rahim, terutama saluran tuba falopi dan ovarium. Jika bagian tersebut terjadi radang dan infeksi yang disertai dengan sumbatan atau perlengketan, rahim yang akhirnya harus diangkat bisa menjadi kemungkinan terburuk.

“Salah satu penyebab adanya peradangan (usus) itu selain infeksi juga karena adanya endapan makanan yang lama di usus. Makanya sangat penting bagi kita minum air putih dan serat yang banyak supaya makanan setelah dicerna, sisa-sisanya cepat lewat dan dibuang,” tutupnya sebelum menyudahi perbincangan. (dil/net)

Artikel Terkait