PALEMBANG — Menyisakan 10 pertandingan sisa di kompetisi Liga 1 Indonesia 2017, Sriwijaya FC masih terseok-seok di papan bawah dengan torehan 28 poin. Sebuah pencapaian yang sangat buruk mengingat di awal musim laskar wong kito mentargetkan bertarung di jalur perebutan juara.

Beberapa faktor pun mulai dari pergantian pelatih yang sangat mepet di awal musim hingga tidak efektifnya pembelian pemain ditenggarai sebagai salah satu yang menyebabkan SFC saat ini kesulitan dan masih berkutat di papan bawah.

“Terkait pergantian pelatih, ini pembelajaran juga buat manajemen SFC. Setelah kegagalan di Piala Presiden, banyak suporter yang memang menyuarakan agar ada pergantian pelatih, sesuatu yang sangat wajar apalagi bila tidak mampu memenuhi target yang ditetapkan. Tetapi pelatih baru masuk disaat kompetisi sudah dimulai dan kurang dari 3 minggu, apalagi kemarin Oswaldo Lessa pun tergolong sangat berani untuk merombak pola pakem bermain SFC selama ini,” ungkap Arie Firdaus dari komunitas Sriwijaya Kaskus.

Hal ini diakuinya sangat membuat perubahan di tubuh SFC di awal musim lalu. “Area teknis memang menjadi ranah pelatih, tetapi parameternya tentu adalah prestasi. Permainan SFC seperti hilang dan tidak ada karakter, seperti melihat Barca tanpa tiki-taka atau Belanda tanpa total football,” keluhnya.

Selain itu, Fahcrudin effect disebutnya juga menjadi faktor pembeda musim ini. “Harus diakui, lini belakang merupakan salah satu lubang yang sangat terlihat saat ini. Dan semua itu dimulai saat SFC secara mengejutkan harus kehilangan Fachrudin dengan alasan yang konyol. Tetapi ini adalah pelajaran mahal dan sangat berharga, tentu kedepan jangan sampai lagi pemain pilar tidak diikat, tidak cukup hanya lisan karena kasus Udin yang sudah bersepakat sebelumnya ternyata di kemudian hari bisa lari ke klub lain,” tegasnya.

Kehilangan sosok pemain penting di lini belakang membuat manajemen SFC segera bergerak cepat untuk mencari pengganti yang sepadan. Bio Paulin yang punya rekam jejak mumpuni di kancah sepakbola Indonesia langsung didatangkan, namun ternyata penampilannya belum sesuai harapan karena mengalami cedera.

Perubahan regulasi yang diterapkan oleh PT Liga Indonesia Baru selaku operator kompetisi Liga Indonesia 1 2017 juga turut berpengaruh ke kebijakan transfer. Mulai dari penggunaan pemain U22 hingga marquee player. Untuk regulasi pemain muda, SFC sebenarnya tidak terlalu mendapatkan masalah, namun untuk marquee player mendatangkan kebingungan. Pasalnya, sebelumnya SFC sudah bersepakat untuk mempertahankan seluruh pemain asing di Liga Torabika Soccer Championship (TSC) 2016, namun Mauricio Leal akhirnya harus terpental dan digantikan oleh Tijani Belaid karena perubahan ini.

Ditunjukknya Hartono Ruslan yang naik pangkat dari asisten menjadi caretaker sempat memberi angina segar setelah hanya mengalami 1 kekalahan dari 8 pertandingan awalnya. Manajemen yang terus berusaha memperbaiki performa juga lalu memulangkan Keith Kayamba, legenda hidup SFC yang kini menjabat sebagai asisten pelatih. “Saya berharap ini cuma siklus, pelajaran mahal yang akan menjadi pegangan kedepannya. Jadi kesimpulannya, sebuah tim yang mumpuni sudah harus disiapkan sejak musim kompetisi berakhir, sehingga saat pra musim bisa benar-benar dimanfaatkan untuk meramu komposisi skuad dan saat turun di kompetisi sesungguhnya tidak ada lagi adaptasi,” pungkasnya. (dedi)

Artikel Terkait