PALEMBANG¬†— Badan restorasi gambut yang dibentuk sebagai upaya percepatan pemulihan kawasan dan pengembalian fungsi hidrologis gambut akibat kebakaran hutan dan lahan tengah gencar melakukan sosialisasi restorasi gambut.

Sekretaris Badan restorasi gambut Indonesia, Hartono Prawira Atmaja mengatakan untuk tahun 2016 lebih difokuskan pada kegiatan sosialisasi. “Restorasi gambut itu perlu perencanaan, tidak bisa sembarang kecuali quick respon seperti pembuatan kanal blocking. Jadi 2017 baru mulai direstorasi,” ungkap Hartono usai pembukaan sosialisasi restorasi gambut di hotel Aryaduta, Selasa (09/8).

Menurutnya, lahan gambut yang ada saat ini memang kondisinya sudah dimanfaatkan sehingga terjadi pengeringan. “Ini yang nantinya akan kita lakukan bersama-sama dengan pemangku daerah sehingga kemungkinan terjadinya kebakaran bisa kita kurangi,” ujarnya.

Dari dua juta hektar lahan gambut yang ditugaskan oleh Presiden Joko Widodo, dikatakan Hartono, diantaranya 1,2 juta hektar dikelola di bawah konsensi baik itu hutan kawasan industri maupun perkebunan sawit.

Dijelaskan Hartono, untuk melakukan restorasi pada lahan gambut pertama akan dilakukan indentifikasi beberapa kawasan yang rawan terbakar. “Kemarin sudah terjadi pengeringan dan nanti 2017 akan kita lakukan kanal blocking agar terjadi pembasahan pada kawasan tersebut. Kemudian langkah kedua akan kita lakukan antisipasi dengan menggunakan agent bio organisme,” jelasnya.

Ditambakannya, pada 2017 anggaran yang disiapkan oleh pemerintah pusat untuk restorasi gambut sebesar 1,2 triliun. “Restorasi ini lebih diprioritaskan di Sumsel, Riau dan Kalimantan tengah,” katanya.

Sementara itu, Gubernur Sumsel Alex Noerdin mengatakan anggaran untuk restorasi gambut bukan dipangkas melainkan diefesiensikan. “Dana itu diefesienkan bukan dipotong, artinya kita bekerja juga harus lebih efesien lagi dan kebersamaan kita lebih ditingkatkan karena itu diperlukan dalam mengahadapi persoalan ini,” tegasnya. (juniara)

RelatedPost