Laskarwongkito.com — Sudah menjadi tradisi, sehabis salat Subuh di bulan Ramadhan, puluhan remaja di berbagai daerah termasuk kotaPalembang akan mengambil kesempatan untuk jalan-jalan bersama teman wanita atau pria. Kegiatan itu biasa disebut dengan asmara Subuh. Di Palembang sendiri kegiatan itu sering dilakukan muda-mudi di kawasan Benteng Kuto Besak (BKB) Palembang.

Tradisi ini bermula dari para remaja yang bermaksud mencari kearifan dari alam. Menikmati indahnya pagi, berolahraga ringan, sambil mengisi waktu agar tidak segera tidur usai Shalat Subuh.

(sumber foto: sumaterapost.co)

Sayangnya, semakin ke sini, tradisi Asmara Subuh ini kerap lebih mengarah ke arah hal yang negatif. Sebab, banyak sekali yang menyalahgunakan asmara subuh ini untuk berperilaku tak senonoh dan yang lebih tak mengenakkan, akhir-akhir ini anak-anak geng motor pun ikut nimbrung dengan tetap menampilkan karakter buruk mereka.

Asal muasal tradisi ini ada dan berkembang di beberapa tempat lantaran para remaja tersebut ingin menemukan jati diri dalam membentuk karakter mereka. Semisal dengan mencari teman, berkumpul dengan teman lainnya sehingga membentuk proses individualisasi mereka.

Faktor psikologis-lah yang mempengaruhi mereka, namanya remaja ingin tahu segala hal. Biasanya mereka ini mulai dari SMP hingga SMA. Sehingga perkumpulan mereka ini menjadi daya tarik bagi temannya juga, maka dari itulah berkembang fenomena ini.

(sumber foto: tstatic.net)

Jangan sampai asmara subuh menjadi tempat bagi remaja menuju kesesatan. Baik dari keluarga, sekolah dan masyarakat harus berperan aktif dan mempunyai kesadaran kolektif secara bersinergi agar nantinya remaja tersebut dapat diarahkan.

Di sisi lain, faktor pendidikan juga amat penting. Untuk menggunakan konsep revitalisasi pusat pendidikan, di mana melalui konsep ini, para remaja diintensifikasi secara maksimal. Dengan acara seminar, itu juga salah satu contohnya sehingga dapat mengkaji asmara subuh ini baik secara informal, formal dan lainnya. (red/dil)

Artikel Terkait