PALEMBANG — Masa kepemimpinan Gubernur Sumatera Selatan sebentar lagi akan berakhir, dari data yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS) selama dua periode kepemimpinannya H. Alex Noerdin berhasil menekan angka kemiskinan di Sumsel sebesar 9,58 ribu orang.

Berdasarkan data dari BPS Sumsel, jumlah penduduk miskin di Sumsel pada Maret 2017 mencapai 1.086,920 ribu orang atau sebesar 13,19% dari total penduduk Sumsel.

“Ada kabar menggembirakan untuk warga Sumsel ternyata atas hasil hitungan BPS Sumsel dari periode September 2016 hingga Maret 2017 terjadi angka penurunan kemiskinan di sumsel dari September 2016 yakni 13,39% menjadi 13,19% untuk Maret 2017, atau mengalami penurunan menjadi 0,20%,  “kata kepala bidang BPS Sumsel, Timbun P Silitonga, Selasa (18/7).

Timbun juga mengungkapkan terjadi penurunan angka kemiskinan Sumsel, jika dikaji secara makro atau indikator yang dihasilkan BPS kemungkinan disebabkan adanya peningkatan daya beli atau peningkatan produk dan peningkatan dari pemerintah Provinsi itu sendiri.

“Seperti  ditopang dengan adanya inflasi cukup baik dalam waktu satu tahun ini dimana kita lihat bahwa inflasi di Sumsel itu mengalami penurunan dari 4,38% menjadi 3,71% artinya ada daya beli, “ungkapnya.

Selain itu, juga Timbun menjelaskan bahwa terjadinya penurunan angka kemiskinan dipengaruhi oleh terciptanya perluasan lapangan kerja di sumsel dalam kondisi februari 2016 dan Maret 2017 dalam kurun waktu satu tahun itu terjadi penurunan tingkat pengangguran turun dari 4,31% menjadi 3,8%.

“Kalau dikatakan penurunan tingkat pengangguran artinya ada penyerapan lapangan pekerjaan dan ini angkanya cukup signifikan dimana angka pengangguran turun dari 4,31% menjadi 3,8% dan mudah-mudahan yang terserap dari lapangan pekerjaan tersebut dari lingkungan masyarakat miskin, “jelasnya.

Lebih lanjut, Timbun menuturkan ada indikator patut di duga yang dapat menurunkan angka kemiskinan adalah Nilai Tukar Petani (NTP), dikarenakan NTP telah mengalami perbaikan dalam kondisi setahun terakhir. NTP sendiri itu dapat mengambarkan secara umum bagaimana tingkat kesejahteraan petani, sementara notabene penduduk miskin kitu lebih banyak di daerah perdesaan dan itu lebih banyak terserap di sektor pertanian.

“Jadi dengan adanya perbaikan NTP yang artinya ada peningkatan pendapatan dari rumah tangga petani, dan otomatis dapat kita katakan terjadi peningkatan pendapatan di rumah tangga penduduk miskin, ” ujarnya.

Kemudian, ia juga menambahkan bahwa pada periode yang sama yakni September 2016 hingga Maret 2017, untuk harga-harga komoditas yang paling banyak di kosumsi penduduk miskin itu seperti, beras eceran daging ayam ras, daging sapi, tepung terigu, gula pasir, semua itu mengalami penurunan dan ini juga mendorong terjadinya peningkatan daya beli dari penduduk miskin itu sendiri.

“Yang saya katakan tadi inflasi terkendali itu membuat penduduk miskin dapat terjadinya peningkatan daya beli masyarakat miskin, dan semua ini juga tidak dapat tercapai kalau Pemerintah yang dipimpin Gubernur dan Wakil Gubernur yang sekarang tidak berusaha keras untuk mensejahterakan rakyat Sumsel itu sendiri, untuk itu semua terbukti dengan penurunan penduduk miskin di Sumsel, “tutupnya. (Juniara)

Artikel Terkait