PALEMBANG — Kisah mengharukan banyak terlihat saat proses seleksi Sriwijaya FC U21, Kamis (16/3) pagi di stadion Bumi Sriwijaya Kampus Palembang. Ratusan peserta tampak dengan serius mengikuti tahapan seleksi demi mewujudkan mimpi menjadi pesepakbola profesional dan membela nama klub kebanggaan masyarakat Sumsel ini.

Seperti kisah Yamadi (20), pemuda asal Belitang Ogan Komering Ulu Timur (OKUT) yang harus menempuh 9 jam perjalanan darat untuk hadir di proses seleksi kali ini. Dengan diantar keluarga besarnya, Yamadi tampak bersemangat melahap semua materi seleksi guna memenuhi cita-citanya menjadi pesepakbola profesional.

“Kisah Ichsan Kurniawan pemain SFC yang juga berasal dari OKU Timur juga menjadi inspirasi. Namun desa kami berbeda, kalau dia di Gumawang sementara saya di Taman Mulyo Belitang,” ungkapnya saat ditemui di sela-sela proses seleksi. Untuk bisa hadir di proses seleksi kali ini, Yamadi pun menyebut sangat dibantu oleh kedua orang tuanya yang juga turut mengantarnya langsung ke Palembang.

Yamadi yang sekarang sudah tamat dari sekolah ini menyebut bahwa dirinya sudah bertekad untuk berjuang hingga penghabisan. “Saya sudah berlatih selama 4 tahun di klub lokal Belitang, Harjo Mulyo FC. Motivasi saya tentu ingin membahagiakan kedua orang tua jika nanti terpilih, jika pun gagal mereka pasti sudah melihat bagaimana saya sudah berusaha keras,” tegasnya.

Sementara itu, kedua orang tua Yamadi yakni Kardi dan Sudarti menyebut bahwa keinginan anaknya tersebut memang sangat kuat untuk ikut seleksi SFC U21. “Sebagai orang tua tentu kami hanya membantu, kemarin kami urunan sama keluarga yang lain dan menyewa mobil untuk berangkat ke Palembang,” jelas sang ayah.

Berangkat dari Belitang pukul 8 malam, rombongan baru tiba di Palembang pukul 5 subuh setelah sempat tersasar beberapa kali. “Tadi malah kami menunggu di stadion Jakabaring terlebih dulu, karena memang jarang ke Palembang selama ini. Tekad anak sangat kuat sehingga kami merasa wajib mewujudkan mimpinya tersebut,” tambahnya.

Kisah yang sama juga ditunjukkan Ronaldo, mahasiswa Akamigas Palembang yang juga punya mimpi untuk menjadi punggawa laskar wong kito. Diantar sang ibu, Ronaldo tidak memperdulikan teriknya cuaca di stadion selama proses seleksi berlangsung. “Dia lahir memang saat Piala Dunia 98 dan Ronaldo sedang jaya-jayanya. Mungkin karena itu sekarang dia sangat hobi sepakbola dan saat tahu ada seleksi ini langsung berkata ingin ikut. Saya sendiri datang karena ingin melihat secara langsung sembari mensupportnya,” ungkap ibunda Ronaldo, Erni warga asal Kenten Perumnas Palembang ini.

Selain itu, meski panitia secara tegas sudah mengatakan hanya menerima pendaftar yang memiliki identitas asli Sumsel, namun tidak mengurungkan niat Ahmad Asril Naldi warga asal Sarolangun Jambi untuk hadir di proses seleksi ini. “Saya tahu memang tidak boleh, tapi saya memohon diperbolehkan ikut seleksi. Saya harus menempuh perjalanan selama 15 jam untuk sampai ke Palembang, tidak masalah jika tidak lolos nantinya, tapi biarkan saya ikut seleksi saja,” ungkapnya saat mencoba menjelaskan kedatangannya ke stadion Bumi Sriwijaya sembari memperlihatkan tiket bus yang ditumpanginya. Akhirnya setelah dengan berbagai pertimbangan, Ahmad Asril pun diizinkan ikut seleksi. (Dedi)

Artikel Terkait