PALEMBANG — Peranan Ilmu Sosial dalam pembangunan sumber daya manusia (SDM) sangatlah strategis. Apalagi untuk menyambut Asian Games 2018 mendatang, dibutuhkan pakar ilmu sosial untuk berkontribusi membangun Negara.

Hal tersebut disampaikan Asisten III, bidang Kesra, Akhmad Nadjib di sela-sela kegiatan Konferensi Internasional Himpunan Indonesia untuk Pengembangan Ilmu-Ilmu Sosial (HIPIIS) di hotel Daira, Rabu (26/10). Menurutnya, sangat penting bagi pakar ilmu sosial untuk saling bertukar pikiran dan informasi baik secara nasional maupun internasional untuk memecahkan sebuah persoalan agar siap menghadapi tantangan secara global.

“Jadi peranan ilmu sosial itu di dalam pembangunan SDM sangatlah penting, Melalui konferensi internasional HIPIIS, para pakar ilmu sosial bisa bertukar informasi untuk merumuskan jawaban untuk menjawab tantangan global,” kata Nadjib.

Menurutnya, Kontribusi HIPIIS untuk Suumsel begitu besar dan nyata karena ilmu sosial ini sebenernya bisa melihat gejala-gejala sosial untuk perubahan sosial. “Supaya nanti masyarakat bisa melihat fenomena sekarang, bagaimana gejala sosial, misalnya masalah narkoba, seks bebas, ini kan juga untuk pendidikan khususnya Kemenristekdikti memberikan gambaran bahwa permasalahan sosial di Sumsel ini ada, ” ungkap Nadjib

Lanjutnya, para pakar ilmu sosial selalu mengevaluasi setiap gejala sosial karena perubahan sosial ini bergerak sangat cepat. “Dengan perubahan teknologi saja masayarakat berubah cepat. Jadi teknologi mempengaruhi pengetahuan sosial, kita ambil contoh seperti pilkada sangat berpengaruh sekali pada pemilihan langsung,” jelasnya

Sementara, Dirjen Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kementerian Riset, Tehnologi dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia, Intan Ahmad, mengungkapkan bahwa kontribusi ilmu sosial sangatlah besar pengaruhnya bagi suatu bangsa untuk bisa berkompetisi secara global

” Jadi kalau hanya memberikan penekanan kepada science, technology, dan inovasi itu belum mengikutsertakan dimensi manusia, belum berjalan lancar karena nantinya teknologi akan dimanfaatkan oleh manusia. Jadi ini ada keterkaitan,” jelasnya.

Karena, Menurut Intan, ilmu sosial berbeda dengan ilmu eksak, jika ilmu eksak yang menentukan hasilnya adalah laboratorium dan bisa bekerja secara sendiri-sendiri, namun ilmu sosial kinerjanya harus berinteraksi dengan sesama para ahli sosial lainnyan

“Tapi kalau teori-teori sosial itu harus berinteraksi, harus meyakinkan pihak lain, kemudian didebatkan dan sebagainya. Jadi itu juga yang harus dipahami oleh kita bagaimana perbedaan ilmu sosial dan eksakta,” tukasnya. (juniara)

RelatedPost