PALEMBANG — Sebanyak 248 Sekolah Dasar (SD) dan 58 Sekolah Menegah Pertama (SMP) yang ada di kota Palembang, 40 persen diantaranya masuk dalam kategori rusak.

Akibatnya, suasana belajar mengajar menjadi terganggu. Padahal sekolah tersebut berada di area perkotaan. Kepala Dinas Pendidikan kota Palembang, Ahmad Zulinto, mengatakan ada 100 bangunan SD sudah dalam kondisi lapuk dan rusak, bahkan tidak dilengkapi dengan sarana dan prasarana yang memadai. Seperti laboratorium, perpustakaan, dan sebagainya.

“Memang dominasi tingkat SD yang paling banyak rusak bangunannya. Karena sekolah-sekolah ini rata-rata dibangun dengan menggunakan papan,” ujar Zulinto saat ditemui di ruang kerja, Rabu (03/05).

WhatsApp Image 2017-05-02 at 17.24.55

(sumber foto : laskarwongkito.com)

Ia menyebutkan, untuk SMP dicatat masih dalam kondisi bangunan yang wajar, meski ada yang rusak bangunannya namun dalam kategori ringan. Sementara untuk jenjang SMA, Zulinto menjelaskan, rata-rata sekolah tingkat menengah atas ini dalam kondisi bagus untuk bangunannya dan sebagian sudah memiliki sarana dan prasarana belajar.

Namun ia menegaskan, untuk SMA bukanlah menjadi tanggung jawab Disdik Kota Palembang karena kewenangannya sudah dialihkan ke provinsi.

Sekolah dengan bangunan yang rusak diakui Zulinto menyebar di semua kecamatan. Baik di Ulu dan di Ilir Kota Palembang. Ia menjelaskan, di kawasan Ulu adalah dominasi lokasi sekolah rusak.

“Sejak sekolah dibangun hingga kini memang jarang ada perbaikan, rehabilitasi. Sebab ada Inpres 83 yang menekan hal itu. Tapi sejak 2 bulan terakhir ini jadi perhatian kami. Atas arahan Walikota, dua bulan belakangan, konsen kami untuk memperbaiki dan membangun kembali bangunan sekolah yang ada,” jelasnya.

Untuk itu, Zulinto menerangkan tahun ini mengucurkan Rp. 120 miliar anggaran untuk perbaikan dan pembangunan kembali sekolah yang rusak. Adapun anggaran tersebut sebagai upaya agar dapat mengejar rencana Walikota Palembang membereskan masalah bangunan sekolah, sarana dan prasarana sekolah tingkat dasar yang rusak.

Sejak 2016, kata Zulinto, sudah ada 70 sekolah yang dibangun kembali. “Target kami hingga 2021 mendatang, masalah ini dapat diselesaikan serta sarana dan prasarana belajar terpenuhi,” ungkap dia.

Ia mengakui cukup banyak keluhan yang masuk akibat dari bangunan sekolah rusak, sarana prasarana belajar tak lengkap dan sebagainya. “Sejauh ini, siswa merasa tak nyaman. Ini berdampak pada kegiatan belajar mengajar,” kata dia.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Sumsel, Widodo menerangkan, pihaknya mengakui saat ini sekolah-sekolah yang rusak serta peralatan mobiler, ruang belajar tak mencukupi, alat pendidikan masih banyak yang kurang dan sebagainya.

“Untuk gedung sekolah di tingkat SMA masih lebih baik dibanding SD dan SMP. Sebab SMA hanya ada sekitar 15 persen yang bangunannya rusak. Sementara untuk SD dan SMP jumlahnya lebih dari 30 persen se-Sumsel yang mengalami kondisi rusak,” kata dia.

Pihaknya pun sudah meminta kepada seluruh daerah untuk memulai perbaikan sekolah-sekolah yang rusak. “Pemisahan kewenangan saat ini diharapkan dapat memaksimalkan anggaran masing-masing untuk perbaikan sekolah. Kita sudah mengimbau agar Bupati dan Walikota mendukung percepatan akses belajar dan sarana prasarana belajar,” kata dia.

Sementara itu, Gubernur Sumsel Alex Noerdin mengaku sudah menyampaikan agar setiap kepala daerah mempercepat upaya perbaikan gedung sekolah, pemerataan akses pendidikan dan melengkapi sarana belajar.

“Bukan mengimbau tapi saya sudah mengintruksikan. Bupati Walikota harus bisa mengambil tindakan untuk perbaikan sekolah rusak dan pembangunan sekolah baru agar siswa nyaman dalam belajar,” singkatnya. (juniara).

 

Artikel Terkait